Berdosakah Suami yang Tidak Mampu Puaskan Pasangannya?

ejakulasi bikin ga puas klik disini

 

“Jangan Jadi EGOISS..

Setiap Berhubungan Kamu Selalu Terpuaskan… Sedangkan aku cuman jadi bahan pelampiasan

Bisanya cuman ngotor ngotorin doing”

Gak maukan klo kata2 itu kluar dari TULANG RUSUK kesayanganmu???

Padalah tugas seorang suami juga harus memenuhi hak hak istri dalam urusan ranjang.. 

.

 Sebagaimana kaidah umum hak dan kewajiban berumah tangga sebagaimana firmanNya:
 

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Istri memiliki hak (yang harus dipenuhi suami) sebagaimana kewajiban yang harus ia penuhi untuk suaminya, dengan baik (dalam batas wajar).” (Q.S. Al Baqarah: 228)

.

Jadi dalam berhubunganpun, suami istri harus menjadikan asas ini sebagai pedoman. Saling memenuhi hak pasangan, saling bekerja sama dan saling menolong. Suami tidak boleh egois, asalkan ia puas, lalu tidak peduli dengan pasangannya.

Suami yang tidak memenuhi hak istrinya dalam hal kepuasan ini, meskipun karena ibadah, ia tidak diperbolehkan. Sebab istrinya memiliki hak atasnya.

 

inspirastore.net

maksudnya sebagaimana berikut ini:

Sebagaimana lelaki ingin mendapatkan kepuasan dari istrinya dalam "berhubungan badan" begitu juga sebaliknya sang istri.

Ibnul Qayyim mengatakan,

“Wajib bagi suami untuk melakukan hubungan dengan istrinya dalam batas “bil ma’ruf” (dalam batas wajar), sebagaimana dia diwajibkan untuk memberi nafkah, memberi pakaian, dan bergaul dengan istrinya dalam batas sewajarnya. Inilah inti dari pergaulan dan tujuan kehidupan rumah tangga.

Allah memerintahkan para suami agar bergaul dengan mereka dalam batas wajar. Dan hubungan badan jelas termasuk  dalam hal ini. Mereka mengatakan, ‘Suami harus memuaskan istrinya dalam hubungan badan, jika memungkinkan, sebagaimana dia wajib memuaskannya dalam memberi makan. Para guru kami –rahimahumullah– menguatkan dan memilih pendapat ini.’” (Raudhatul Muhibbin, hal. 217)

Kembali ke pertanyaan di atas, bagaimana jika suami tidak mampu?

 

tongkat yaman
klikdisini

Berikut penulis kutip jawaban atas permasalahan tersebut:

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam bukunya yang berjudul Al Jami’ fi Ahkam An Nisa (Fikih Wanita) menjelaskan sikap dan pendapat para ulama fikih terkait hukum suami impoten.

Menurut Ibnu Hazm, bila suami tak lagi mampu memberikan nafkah batin maka tidak diperbolehkan bagi seorang hakim atau orang lain untuk menceraikan keduanya. Hal ini karena status perempuan yang ia nikahi tersebut masih istri sah. Bila berkehendak, suami memiliki dua opsi, yaitu antara mempertahankan pernikahannya atau menceraikan istrinya tersebut.

Pendapat ini merujuk pada riwayat yang dinukil dari salah seorang tabiin, yakni Sa’id bin al-Musayyib. Menurut tabiin yang wafat 94 H tersebut, pernikahan mereka bisa dipertahankan sampai batas waktu maksimal satu tahun.

Bila dalam kurun waktu itu kondisi suami membaik dan bisa kembali menafkahi batin, pernikahan boleh dilanjutkan dan jika tidak maka hendaknya keduanya diberi opsi cerai.